Mendidik Generasi Tangguh Anti Rapuh

Tentang Kelas

Ngeri! Ini Data Kerusakan Remaja Abad 21: 

  • Hukum & Kriminal: Sebanyak 21.945 anak di bawah 20 tahun terlibat kasus hukum (19.115 laki-laki dan 2.125 perempuan). Kasus teratas yang mendominasi meliputi pengeroyokan/penganiayaan, pencurian, dan narkoba. (Sumber: Laporan Aplikasi EMP [Pusiknas Bareskrim Polri])
  • Kekerasan & Bullying: Sekitar 50,78% remaja (usia 13–17 tahun) di Indonesia pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan (fisik, emosional, atau seksual) sepanjang hidupnya. Lebih dari 2/3 dari pelaku kekerasan fisik dan emosional tersebut adalah teman sebaya mereka sendiri. (Sumber: Laporan Analisis Tematik Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) oleh [Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA)).
  • Tawuran & Judi Online: Aksi tawuran pelajar zaman sekarang telah bermutasi menjadi “Kenakalan Remaja 2.0”. Tawuran tidak lagi bersifat spontan, melainkan direncanakan via media sosial (seperti Instagram), disiarkan secara langsung (live streaming), dan dimonetisasi melalui endorse atau sponsor dari jaringan judi online. (Catatan: Data spesifik wilayah seperti Jakarta umumnya dihimpun terpisah oleh data agregat Kamtibmas Polda Metro Jaya). (Sumber: Riset dan Forum Group Discussion (FGD) mengenai Migrasi Kenakalan Remaja ke Dunia Digital oleh [Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)]).

Pertanyaannya: Sudahkah kita menyiapkan mental mereka untuk menghadapi semua kegilaan era digital ini? Ingat…

Anak kita tidak akan selamanya menjadi anak-anak yang terus kita arahkan.

Akan ada masanya mereka harus mampu survive sendiri di luar sana. Mengambil keputusan sendiri, menghadapi tekanan pekerjaan maupun lingkungan, menyelesaikan masalah, hingga menanggung konsekuensi dari pilihan yang mereka ambil.

Tanggung jawab mereka kelak akan jauh lebih besar daripada hari ini.

Namun, satu hal penting perlu kita sadari:

bertambahnya usia tidak otomatis membuat anak menjadi dewasa.

Secara biologis, fisik mereka pasti tumbuh. Baligh akan datang. Usia akan bertambah.

Tetapi bagaimana dengan kematangan akal, self-control, keteguhan karakter, daya juang, kemampuan menghadapi ketidaknyamanan, keberanian mengambil keputusan, dan kesiapan memikul tanggung jawab?

Apakah semua itu akan tumbuh dengan sendirinya?

Tidak. Semua itu perlu dipersiapkan.

Di sinilah pendidikan mengambil peran yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat anak pintar, patuh, atau berprestasi.

Pendidikan seharusnya membantu anak bertumbuh menjadi manusia yang mengenal dirinya, memahami tanggung jawabnya, mampu menghadapi ketidaknyamanan, berani mengambil keputusan, sanggup menerima konsekuensi, dan perlahan-lahan siap memikul amanah kehidupan.

Karena sesungguhnya, kita bukan hanya sedang membesarkan seorang anak.

Kita sedang mempersiapkan seorang manusia.

Manusia yang suatu hari mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Manusia yang tidak hanya mampu menjaga dirinya, tetapi juga siap hadir sebagai pribadi yang mampu menjaga, melindungi, menanggung, memberi, dan bertanggung jawab atas orang lain.

Kelas ini mengajak para perempuan dan ibu melihat pendidikan generasi sebagai sebuah perjalanan panjang menuju kedewasaan—mulai dari persiapan sebelum menikah, pembentukan menuju Aqil Baligh, penguatan karakter melalui Futuwwah, hingga memahami Qiwamah sebagai kesiapan memikul amanah dan tanggung jawab.

Sekaligus memahami tantangan zaman yang sedang membentuk generasi hari ini.

Tampilkan Selengkapnya

Apa yang Akan Ibu Pelajari?

  • Memahami bahwa kedewasaan perlu dipersiapkan sebelum baligh, bukan ditunggu sampai anak dianggap cukup umur.
  • Mengenali aspek penting dalam kesiapan aqil baligh: iman, akal, karakter, emosi, kemandirian, dan tanggung jawab.
  • Membaca tantangan dunia digital yang sedang membentuk perilaku dan cara berpikir Gen Z dan Gen Alpha.
  • Memahami prinsip futuwwah sebagai proses pembentukan keberanian, ketangguhan, pengendalian diri, dan kesiapan memikul amanah.
  • Memahami pola Parenting Rabbani melalui teladan Rasulullah ﷺ dalam membersamai generasi muda.
  • Memahami qiwamah sebagai tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, memberi, menanggung, dan menguatkan keluarga.
  • Memiliki perspektif yang lebih matang dalam memilih calon pasangan dan calon ayah bagi generasi yang akan dibangun.
  • Mengenali area yang perlu dipersiapkan pada anak sebelum memasuki masa aqil baligh.
  • Memiliki arah yang lebih jelas dalam membersamai anak atau cucu menuju kedewasaan.
  • Melihat pernikahan dan keluarga sebagai bagian dari perjalanan pembentukan generasi, bukan sekadar fase kehidupan.

Isi Kelas

Jadwal Kelas Live — 10 Pertemuan
Kelas ini disusun sebagai satu perjalanan yang saling terhubung. Bukan Hanya Materi, Ada Ruang untuk Mendalami Karena memahami konsep belum tentu berarti tahu bagaimana menerapkannya di rumah. Selain 6 materi utama, peserta juga akan mendapatkan 4 sesi diskusi dan pendalaman.

  • Pertemuan 01 — Mempersiapkan Aqil Baligh & Menyemai Kedewasaan
  • Pertemuan 02 — Deep Dive & Case Review
  • Pertemuan 03 — Kau Tumbuh di Tanah Digital
  • Pertemuan 04 — Q&A Session 1
  • Pertemuan 05 — Futuwwah
  • Pertemuan 06 — Parenting Rabbani
  • Pertemuan 07 — Q&A Session 2
  • Pertemuan 08 — Qiwamah
  • Pertemuan 09 — Saat Berbekal Menuju Ibadah Terpanjang
  • Pertemuan 10 — Q&A Session 3